Kamis, 05 Februari 2009

prasangka

Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri
kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya
untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar demi
kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat si kecil
tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak kecil
lainnya.

Suatu hari di musim dingin, saat selesai membuat
kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak
berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan
kepada putrinya agar menunggu saja di rumah. Pulang dari membeli
keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya
tidak ada di rumah. Spontan amarahnya memuncak. Putri betul-betul
tidak tahu diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah
sebentar saja malahan pergi bermain dengan teman-temannya!

Setelah
selesai menyusun kue di keranjang, si ibu segera pergi untuk
menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak
menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan sebagai hukuman untuk
si putri, pintu rumah di kuncinya dari luar. "Kali ini Putri
harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan," geram si
ibu dalam hati.

Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu
mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan
pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya
yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah
dipindahkannyalah tubuh putri ke dalam rumah.

"Putri...Putri. ..Putri.. ., bangun, Nak! Ini ibu, Nak!
Bangun, Nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku!" Serunya
sambil menangis merung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan
dengan menguncang-guncangk an tubuh si putri agar terbangun. Tetapi
putri tidak bereaksi sama sekali.

Tiba-tiba terjatuh dari
genggaman tangan si putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka,
ternyata di dalamnya berisi sebungkus kecil biskuit dan secarik
kertas usang. Dengan tergesa-gesa dan tangan yang gemetar hebat, si
ibu segera mengenali tulisan putrinya yang masih berantakan tetapi
terbaca jelas.

"Ibuku tersayang, Ibu pasti lupa hari
istimewa Ibu ya. Hi... hi... hi..., ini Putri belikan biskuit
kesukaan ibu. Maaf Bu, uang putri tidak cukup untuk membeli yang
besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena
meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini. Selamat ulang tahun,
Bu. Putri selalu sayang, Ibu!" Dan meledaklah tangis sang ibu.

Sahabat,

prasangka sering mendatangkan petaka
adalah kalimat yang cocok dengan kisah tadi dan penyesalan biasanya
datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di
dunia ini muncul karena prasangka negatif maka butuh kedewasaan dalam
mengendalikan pikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani
begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan
berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan
hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan
membahagiakan.

Artikel by Andre Wongso